Find the Media Publications You Need
Tentang SETARA

Think Tank Untuk Demokrasi dan Perdamaian

Kami memadukan ketajaman akademik dan aktivisme sosial untuk mendorong perubahan kebijakan yang inklusif.

Profil SETARA

Lahir dari Komitmen untuk Kemanusiaan

SETARA Institute adalah organisasi penelitian dan advokasi kebijakan yang berdedikasi mewujudkan tata sosial politik demokratis, di mana setiap warga negara diperlakukan setara, plural, dan bermartabat.

Visi

Mewujudkan perlakuan setara, plural dan bermartabat atas semua orang dalam tata sosial politik demokratis.

Misi
  1. Mempromosikan pluralisme, humanitarian, demokrasi dan hak asasi manusia
  2. Melakukan studi dan advokasi kebijakan publik di bidang pluralisme, humanitarian, demokrasi dan hak asasi manusia
  3. Melancarkan dialog dalam penyelesaian konik
  4. Melakukan pendidikan publik
Perjalanan SETARA

Jejak Langkah SETARA

2005
2007
2010
2013
2015
2017
2018
2019
2020
2022
2023
2024
2025

2005

Pendirian Organisasi

Pada 14 Oktober 2005, lahir sebuah komitmen yang berdiri teguh di atas fondasi konstitusi dan kemanusiaan: SETARA Institute for Democracy and Peace. SETARA Institute lahir dari keprihatinan sejumlah aktivis hak asasi manusia, akademisi, dan pegiat demokrasi terhadap meningkatnya intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan atas nama agama, ras, dan gender di Indonesia.`

2007

Penerbitan Laporan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan

SETARA Institute menorehkan perannya dalam kerja riset dan advokasi melalui penerbitan Laporan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) yang disusun secara berkala. Laporan ini menjadi salah satu rujukan nasional paling awal dan konsisten dalam mendokumentasikan serta mengungkap dinamika pelanggaran KBB di Indonesia, sekaligus memperkuat basis pengetahuan untuk mendorong perlindungan hak-hak konstitusional warga.

2010

Peluncuran Indeks Kinerja HAM

SETARA Institute secara periodik merilis laporan tahunan Indeks Kinerja HAM sebagai instrumen analisis terhadap kondisi pemajuan hak asasi manusia di Indonesia. Disusun berdasarkan kerangka penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan Hak Sipil dan Politik (ICCPR), serta Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (ICESCR), laporan ini menghadirkan basis data yang komprehensif dan menjadi rujukan utama dalam memotret lanskap kinerja HAM di tanah air.

2013

Publikasi Indeks Hak Konstitusional Warga

SETARA Institute menerbitkan Indeks Hak Konstitusional Warga: 10 Tahun Mahkamah Konstitusi & Amandemen UUD sebagai evaluasi atas peran Mahkamah Konstitusi dalam menjamin dan melindungi hak konstitusional warga negara. Laporan ini menilai capaian, sekaligus menyoroti tantangan akuntabilitas, integritas, dan efektivitas dalam penguatan demokrasi konstitusional di Indonesia.

2015

Peluncuran Indeks Kota Toleran

Pada satu dekade sejak pendiriannya, SETARA Institute pertama kali meluncurkan Indeks Kota Toleran (IKT), sebagai instrumen pengukuran untuk mempromosikan praktik-praktik baik toleransi di kota-kota Indonesia. Sejak pertama kali dipublikasikan, IKT diterbitkan secara berkala dan menjadi rujukan penting dalam menilai serta mendorong kinerja kota dalam membangun kehidupan yang inklusif dan toleran.

2017

Advokasi Remediasi Korban Kebakaran Lahan

Pada 2017, SETARA Institute memberikan rekomendasi remediasi bagi korban kebakaran lahan kepada sejumlah perusahaan sebagai bagian dari upaya mendorong pemulihan hak dan akuntabilitas korporasi terhadap dampak pelanggaran yang ditimbulkan.

2018

Kajian Kinerja Mahkamah Konstitusi

SETARA Institute menerbitkan Laporan Kinerja Mahkamah Konstitusi RI 2016-2017 sebagai evaluasi atas kualitas putusan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945. Laporan ini menyoroti tantangan dalam konsistensi putusan, praktik ultra petita dan ultra vires, serta isu integritas hakim, sekaligus memberikan rekomendasi untuk memperkuat kredibilitas dan akuntabilitas Mahkamah Konstitusi dalam pemajuan hak konstitusional warga.

2019

Penyusunan Human Rights Policy Commitments

SETARA Institute berkontribusi dalam penyusunan Human Rights Policy Commitments bagi perusahaan pertambangan di Aceh dan Sumatera Utara sebagai upaya mendorong praktik bisnis yang selaras dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia.

2020

Pendampingan Petani Sawit dalam Pemulihan Hak

Sejak 2020 hingga 2022, SETARA Institute mendampingi koperasi petani kelapa sawit di Riau dalam memperjuangkan pemulihan hak atas pelanggaran HAM yang melibatkan perusahaan BUMN, sebagai bagian dari upaya memperkuat keadilan dan akuntabilitas bagi komunitas terdampak.

Penguatan Tata Kelola Inklusif

Sejak 2020, Intervensi program SETARA Institute dalam mendorong mainstreaming inclusive governance memperluas keterlibatan pemangku kepentingan, khususnya pemerintah daerah. Upaya ini berkontribusi pada peningkatan kesadaran terhadap pentingnya kebijakan non-diskriminatif, mendorong pengembangan inisiatif daerah yang pro-toleransi dan keberagaman, serta membuka peluang kolaborasi untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang inklusif di masa depan.

2022

Pembentukan Kajian Police Reform Iniative (PRI)

SETARA Institute memusatkan perhatian pada kajian yang menelaah akar persoalan struktural, kultural, dan operasional di tubuh Kepolisian Republik Indonesia yang berkontribusi pada keberulangan kasus dan krisis kepercayaan publik. Melalui Police Reform Initiative (PRI), SETARA mengembangkan riset dan forum diskusi dengan melibatkan pakar dari BRIN, akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta unsur internal kepolisian.

Melalui wadah ini, SETARA mendorong pembahasan berbasis riset dan bukti empiris untuk memperkuat arah transformasi kelembagaan kepolisian yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada perlindungan HAM, termasuk dalam isu tata kelola keamanan, relasi sipil-militer, dan desain kelembagaan yang lebih adaptif terhadap prinsip demokrasi serta kebutuhan masyarakat.

Kolaborasi Pengukuran Toleransi di Muara Enim

Indeks Kota Toleran (IKT) Kabupaten Muara Enim merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Muara Enim dan SETARA Institute dalam upaya mengukur serta memperkuat praktik toleransi di tingkat lokal.

2023

Penguatan Bisnis dan HAM

SETARA Institute merilis laporan Normative Innovation for the Advancement of Business and Human Rights in Indonesia yang memetakan kewajiban negara, tanggung jawab korporasi, akses pemulihan, serta praktik human rights due diligence pada perusahaan besar di Indonesia.

Pada tahun yang sama, SETARA juga memperkuat kerja kolaboratif melalui peningkatan kapasitas bersama BPOM RI dan SIGI terkait penerapan prinsip Bisnis dan HAM, sekaligus berkontribusi sebagai anggota National Taskforce on Business and Human Rights.
Serta merilis publikasi untuk ‘Pemajuan Bisnis dan HAM di Indonesian (2023)’.

2024

Desain Transformasi Polri

Tahun 2024, SETARA Institute menerbitkan kajian riset strategis berjudul “Desain Transformasi Polri untuk Mendukung Visi Indonesia 2045”, yang memuat peta jalan transformasi kelembagaan kepolisian secara komprehensif dan aplikatif.

Dokumen ini kini semakin relevan menjadi acuan dan referensi penting bagi Polri, dalam meramu Reformasi Polri yang berorientasi pada demokratisasi, akuntabilitas, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Penguatan Kajian Strategi Nasional Bisnis dan HAM

SETARA Institute aktif mendukung implementasi National Strategy on Business and Human Rights sesuai Peraturan Presiden No. 60 Tahun 2023. SETARA juga menerbitkan publikasi strategis yaitu Dampak dan Respons Indonesia atas Adopsi EU CSDDD (2024).

Selain itu, SETARA berperan dalam penguatan kapasitas melalui pelatihan Human Rights Due Diligence bagi serikat pekerja, serta berkontribusi sebagai tim ahli Kementerian Hukum dan HAM dalam penyusunan regulasi terkait penerapan uji tuntas HAM oleh korporasi.

Apresiasi atas Peran dalam Pencegahan Ekstremisme Kekerasan

Secara istimewa SETARA Institute menerima Pin Emas dari Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan sebagai apresiasi atas perannya yang aktif dalam penanggulangan terorisme melalui pendekatan berbasis hak asasi manusia. Selain itu di tahun yang sama, SETARA juga dianugerahi penghargaan RAN PE dalam kategori Program Inovatif dan Berkelanjutan atas strategi advokasinya yang berhasil memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ekstremisme kekerasan.

2025

Dua Dekade Menguatkan Lokal, Berdampak Nasional

Memasuki dua dekade, SETARA Institute meneguhkan perannya sebagai lembaga riset dan advokasi melalui peluncuran Indeks Inklusi Sosial Indonesia (IISI) sebagai instrumen pertama yang mengukur kinerja dan capaian pembangunan inklusi sosial di Indonesia. Indeks ini menjadi rujukan penting, khususnya bagi pemerintah daerah dalam perencanaan pembangunan dan penyusunan RPJMD.

Selanjutnya, SETARA memperkuat agenda Bisnis dan HAM melalui publikasi Business and Human Rights Outlook 2025 serta laporan capaian pemajuan Bisnis dan HAM di Indonesia, yang berfungsi sebagai pedoman intervensi bagi masyarakat sipil dan pemangku kepentingan. Pada tahun yang sama, SETARA Institute menyelenggarakan Anugerah Bisnis dan Hak Asasi Manusia (BHAM) 2025 sebagai bentuk apresiasi terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab. Mengusung tema “Perbaikan Berkelanjutan Korporasi dalam Praktik Bisnis yang Bertanggung Jawab sebagai Kunci Pembangunan Nasional”, penghargaan ini diberikan kepada perusahaan di sektor perkebunan sawit dan pertambangan. Inisiatif ini menegaskan peran SETARA dalam mendorong standar Bisnis dan HAM, sekaligus memperkuat insentif bagi korporasi untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dan penghormatan HAM dalam praktik usahanya.

SETARA juga mendorong penguatan tata kelola sumber daya alam yang lebih bertanggung jawab, berbasis HAM, dan berkelanjutan melalui studi Responsible Mining di sektor nikel di Sulawesi Tenggara, sekaligus membuka ruang dialog multipihak antara pemerintah, korporasi, dan masyarakat terdampak.

Di tingkat lokal, kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Mimika memperluas praktik pengukuran toleransi dan harmoni sosial sebagai dasar penguatan kebijakan inklusif.

Sementara itu, SETARA Institute berinisiatif menyelenggarakan Konferensi Kota Toleran (KKT) sebagai tindak lanjut atas temuan Indeks Kota Toleran (IKT). Diselenggarakan di Kota Singkawang, forum ini menjadi ruang berbagi pemikiran para pemangku kepentingan daerah yang melibatkan kepala daerah, Kesbangpol, dan FKUB dalam mendorong penguatan praktik toleransi dan kebijakan inklusif di tingkat lokal.

Riset & Advokasi Kebijakan

Lima Pilar Program Kami

  • Kebebasan Beragama/Berkeyakinan

    Fokus

    Mengawal jaminan hak sipil atas kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi setiap warga negara. Kami memantau intoleransi, mengadvokasi kebijakan inklusif, dan memperkuat resiliensi sosial kelompok minoritas.

    Pendekatan

    Pemantauan Pelanggaran KBB.
    Promosi Ekosistem Toleransi
    Advokasi Hak-Hak Minoritas Agama
    Advokasi Kebijakan Promotif Toleransi
    Pelajari Isu Ini
    Keamanan Manusia & Reformasi Sektor Keamanan

    Fokus

    Fokus kajian ini menganalisis transformasi tata kelola institusi keamanan di Indonesia agar selaras dengan prinsip demokrasi, supremasi sipil, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Pendekatan yang digunakan menempatkan keamanan tidak hanya sebagai stabilitas negara, tetapi juga sebagai upaya melindungi dan memastikan rasa aman warga negara.

    Pendekatan

    Reformasi Tata Kelola Institusi Keamanan
    Keamanan Berbasis Hak Asasi Manusia
    Keamanan yang Berorientasi pada Warga Negara
    Pelajari Isu Ini
    Hukum dan Konstitusi

    Fokus

    Studi hukum dan konstitusi difokuskan pada upaya perlindungan, pemenuhan, dan penghormatan hak asasi manusia. Pilar ini mendukung sistem hukum yang mendorong toleransi, inklusi, serta memperkuat demokrasi konstitusional dan rule of law.

    Pendekatan

    Penguatan Demokrasi Konstitusional
    Perlindungan dan Pemajuan Hak Asasi Manusia
    Membangun Sistem Hukum yang Inklusif
    Pelajari Isu Ini
    Pencegahan Ektremis Berbasis Kekerasan

    Fokus

    Fokus kajian isu ini berangkat dari hipotesis yang dikembangkan oleh SETARA bahwa intoleransi adalah anak tangga menuju radikalisme – ekstremisme. Di satu sisi, pluralisme yang seharusnya menjadi kekuatan justru kerap disalahpahami dan dipraktikkan secara eksklusif.

    Intoleransi yang dibiarkan berkembang—baik dalam kebijakan maupun praktik sosial—dapat memperlemah kohesi sosial dan membuka ruang bagi munculnya radikalisme. Karena itu, intervensi terhadap ekstremisme berbasis kekerasan menjadi bagian tak terpisahkan untuk mewujudkan kondisi yang demokratis dalam masyarakat yang plural.

    Pendekatan

    Pencegahan Berbasis Penguatan Toleransi
    Intervensi Berbasis Riset dan Kebijakan
    Memperkuat Kohesi Sosial dalam Masyarakat Plural
    Pelajari Isu Ini
    Bisnis dan HAM

    Fokus

    Di bidang Bisnis dan Hak Asasi Manusia, SETARA Institute memiliki mandat untuk mendorong penguatan akuntabilitas HAM dalam berbagai aspek, meliputi: kebijakan yang berbasis HAM, advokasi HAM, perlindungan pembela HAM, serta promosi nilai-nilai HAM. Secara khusus, kerangka besar penguatan akuntabilitas HAM dalam riset dan advokasi Bisnis dan HAM diwujudkan melalui promosi penerapan Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab.

    Saat ini, SETARA Institute memiliki berbagai pengalaman dalam penelitian dan pendampingan bersama beberapa perusahaan untuk menerapkan perilaku bisnis yang bertanggung jawab, serta terlibat dalam advokasi bagi komunitas terdampak untuk mendapatkan pemulihan atas pelanggaran HAM yang terjadi akibat dari operasionalisasi bisnis perusahaan

    Pendekatan

    Mendorong Akuntabilitas HAM dalam Praktik Bisnis
    Riset dan Advokasi Berbasis Dampak
    Perlindungan dan Pemulihan bagi Komunitas Terdampak
    Pelajari Isu Ini
    Ruang Lingkup Kerja SETARA

    Demokrasi dan Perdamaian melalui Riset dan Advokasi

    Riset & Produksi Pengetahuan

    Pemantauan rutin, kajian tematik, dan penyusunan berbagai indeks nasional.

    Pelibatan Strategis

    SETARA Institute membangun kemitraan strategis lintas sektor untuk mendorong inovasi kebijakan, perlindungan kelompok rentan, dan pembangunan yang inklusif.

    Pendidikan Publik

    Program pendidikan publik dikembangkan melalui pelatihan, kampanye edukatif, materi pembelajaran, dan diskusi publik untuk mendorong kesadaran serta partisipasi warga.

    Fasilitasi Dialog dalam Penyelsaian Konflik

    SETARA Institute memfasilitasi dialog untuk penyelesaian konflik sosial berbasis identitas dan keyakinan, sekaligus mendorong inklusi sosial dan pemulihan hubungan secara berkelanjutan.

    Advokasi Kebijakan Berbasis Data dan Pengetahuan

    Riset SETARA Institute menjadi dasar advokasi kebijakan yang mendorong regulasi berbasis hak asasi manusia.

    Tim Kami

    Kenali Para Ahli Kami

    Hendardi

    Chairperson of the SETARA Institute

    Harkirtan Kaur Chahal

    Program Manager / Researcher on Freedom of Religion and Belief (KBB)
    Load More

    Mari Menguatkan Ruang Inklusif Bersama

    SETARA membuka ruang kolaborasi untuk penguatan kapasitas, dialog sosial, dan advokasi kebijakan

    Hubungi Kami

    Hendardi

    Chairperson of the SETARA Institute

    Hendardi is the Chair of the Board of Directors of the SETARA Institute, an organization he founded in 2005 in response to the rise of fundamentalism and discrimination in Indonesia. Known as one of the country’s most steadfast human rights activists, Hendardi has dedicated more than three decades of his life to advocating for equality, pluralism, and legal justice.

    Although he received his formal education at the Faculty of Civil and Environmental Engineering at the Bandung Institute of Technology (ITB), his journey as an activist began during the 1978 student movement against the New Order regime. His advocacy career continued to develop through various strategic institutions, ranging from the Bandung Legal Aid Institute (LBH), the Indonesian Legal Aid Foundation (YLBHI), to the establishment of the Indonesian Legal Aid and Human Rights Association (PBHI).

    Harkirtan Kaur Chahal

    Program Manager / Researcher on Freedom of Religion and Belief (KBB)

    (Kirtan) is a Program Manager at the SETARA Institute responsible for managing a number of programs in the areas of freedom of religion or belief (FOB), human rights, and inclusive governance. In this role, Kirtan is involved in the planning, coordination, and implementation of various research and advocacy activities supported by national and international partners. Kirtan completed his Bachelor of Laws degree at Pelita Harapan University and has completed the Specialized Professional Training for Advocates (PKPA) and passed the Bar Exam (UPA). This legal background strengthens Kirtan’s contributions to policy work and monitoring the implementation of regulations, particularly regarding constitutional issues and the protection of vulnerable groups. Kirtan comes from the Sikh community, one of Indonesia’s religious minorities, and frequently represents this community in various interfaith forums at both the national and international levels. This experience has broadened Kirtan’s involvement in efforts to foster interfaith dialogue and advocate for equal rights for all citizens without discrimination. Kirtan also has experience collaborating with various state institutions and civil society organizations to promote the protection of minority groups and women from violence based on religion or belief. At the SETARA Institute, Kirtan has been involved in developing various research tools, such as the Tolerant Cities Index (IKT) and the Indonesian Social Inclusion Index (IISI), and has led digital campaigns aimed at engaging young people on issues of tolerance and human rights. Through his active involvement in KBB research, Kirtan focuses particularly on issues at the intersection of religious identity, gender, and civil liberties. Kirtan also frequently serves as a panelist in various public discussions to share perspectives grounded in his experiences and the empirical analysis he has developed throughout his work in this sector.